Dewi Sri hadir dalam kisah tentang padi karena sosoknya menghubungkan tanaman pangan dengan kesuburan dan kelangsungan hidup. Ia dikenal sebagai dewi padi di Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi. Dalam kepercayaan yang dirangkum, padi berada dalam kuasanya, sementara berkahnya dikaitkan dengan panen melimpah, kehidupan, dan kemakmuran [1].
Kisah yang berpusat pada asal-usul padi
Kebanyakan kisah tentang Dewi Sri berkaitan dengan mitos asal mula terciptanya tanaman padi [1]. Dalam pembacaan simbolik, cerita asal-usul itu memberi ruang untuk menghubungkan sumber pangan dengan sosok yang melambangkan kesuburan. Padi bukan sekadar latar cerita: ia menjadi pusat yang menjelaskan mengapa Dewi Sri dikaitkan dengan kehidupan dan kemakmuran.
Pemujaan terhadap dewi padi disebut berkembang seiring penyebaran penanaman padi di Asia, lalu kepercayaannya ikut memengaruhi masyarakat Nusantara [1]. Namun, asal-usul Dewi Sri tidak diringkas dalam satu pandangan saja. Ia kerap disamakan dengan dewi Hindu Sri Lakshmi, sementara ada pula pandangan bahwa pemujaan dewi padi di Nusantara telah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha [1].
Padi sebagai simbol yang terlihat
Hubungan Dewi Sri dengan padi tampak pula dalam penggambarannya. Arca Dewi Sri di Indonesia dikaitkan dengan padi, termasuk ciri tangan kiri yang menggenggam setangkai padi. Dalam penggambaran Lakshmi di India, bunga padma atau teratai merah lebih sering menjadi atributnya [1].
Perbedaan itu memberi konteks pada hubungan Dewi Sri dan Sri Lakshmi: keduanya kerap disandingkan, tetapi gambaran Dewi Sri di Indonesia menempatkan padi sebagai penanda penting [1]. Secara editorial, simbol tersebut membuat kaitan antara sosok, tanaman pangan, dan kesuburan terbaca langsung tanpa perlu mengandalkan cerita asal-usul saja.
Panen sebagai berkah sekaligus kerentanan
Makna Dewi Sri tidak hanya menyentuh harapan akan panen berlimpah. Ia juga dikaitkan dengan kebalikan dari kemakmuran, seperti kemiskinan, kelaparan, hama, dan penyakit [1]. Secara simbolik, dua sisi ini menempatkan padi sebagai sumber kehidupan sekaligus sesuatu yang hasilnya tidak bisa dianggap pasti.
Keterangan tentang Dewi Sri juga menghubungkan pemujaannya dengan kesuburan dan pentingnya pertanian, serta menyebut penghormatan terhadapnya sejak masa kerajaan kuno di Jawa, termasuk Majapahit dan Pajajaran [1]. Dalam konteks tradisi panen, hubungan itu membantu menjelaskan mengapa padi dapat hadir bukan hanya sebagai hasil pertanian, melainkan juga sebagai lambang berkah dan kemakmuran. Yang bisa ditarik dari kisah dan simbol tersebut adalah makna panennya; keterangan ini tidak merinci satu bentuk upacara tertentu.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Dewi Sri. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30008492&title=Dewi_Sri (diakses 2026-10-02).